Sejaksebelum menikah, saya sudah tau bahwa calon suami saya mungkin suatu hari nanti harus melanjutkan sekolah di luar negeri, bukan setahun atau dua.. tapi minimal tiga tahun. Sementara saya, yang dalam diri saya saat itu mengalir darah muda, tersimpan energi besar, dan haus untuk mengejar ambisi dan cita-cita di masa depan, tidak ambil pusing.
Sertaada juga yang ikut suami yang bekerja di luar negeri. Namun, untuk tinggal di luar negeri bukanlah sesuatu yang mudah. Kini Angie hidup di London untuk mendampingi suami bertugas. Angie pun jarang muncul lagi di layar kaca Indonesia meski beberapa kali ia terlihat proyek film. Potret keseharian 10 seleb Tanah Air saat kuliah di
Sehinggaperlu diawasi dan ditemani oleh sang kakak Eril. "Jadi inginnya tuh di sana bareng (adik), apalagi kan cewek ya masih takut gitu lah kalau sendirian di luar negeri," tambah Eril. Sebelumnya diberitakan, putra sulung Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Emmeril Kahn Mumtadz (Eril), terseret arus Sungai Aare, Bern, Swiss, pada Kamis 26 Mei
4 Meldezetel pengundang (penjelasannya bisa dibaca ulang di tulisan saya tentang Mengurus Ijin Tinggal untuk Mendampingi Pasangan Sekolah di Austria) dan surat kontrak sewa rumah. Waktu itu saya juga menyetorkan surat undangan dari suami yang dikeluarkan oleh kantor kepolisian kota Leoben Austria, tapi ternyata untuk Visa D tidak perlu surat ini.
Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. - Arumi Bachsin rela meninggalkan dunia keartisan usai menikah dengan Emil Dardak. Kini ia pun menikmati kegiatannya menjadi seorang Ibu dan istri dari pejabat daerah. Emil Dardak, diketahui saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur sejak 13 Februari 2019. • Istri Marcell Darwin Bagikan Potret Maternity 9 Bulan, Beri Respon saat Dikomentari Terlalu Vulgar • Pemeran Tisna Mengundurkan Diri Tinggalkan Ojak dan Pur di Tukang Ojek Pengkolan, Begini Rating TOP Karier Emil Dardak di politik terbilang moncer sejak menikahi Arumi Bachsin. Arumi Bachsin dan Emil Dardak Sebelum jadi Wagub, Emil pernah menjabat sebagai Bupati Trenggalek sejak 17 Februari 2016 hingga 12 Februari 2019. Emil sendiri bukanlah pria yang berasal dari keluarga sembarangan. Emil merupakan cucu H. Mochamad Dardak, salah satu kyai Nahdlatul Ulama. Ayahnya adalah Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode tahun 2010-2014. Sementara ibunya bernama Sri Widayati. Dari sang ibu mengalir darah Letjen Anumerta Wiloejo Poespojudo, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional pertama di era Presiden Soekarno. Pada tanggal 30 Agustus 2013, Emil menikahi artis Arumi Bachsin di Rumah Maroko, Menteng, Jakarta Pusat. Dari pernikahannya tersebut, Emil dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Lakeisha Ariestia Dardak, dan anak laki-laki yang diberi nama Alkeinan Mahsyir Putro Dardak. Sebelum terjun ke dunia politik Emil Dardak memiliki banyak prestasi dan bekerja di World Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Emil dicapai saat didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia Persero.
Menikah bukanlah penghalang untuk melanjutkan impian. Malah sebenarnya jadi ada pasangan yang bisa mendukung kita mengejar impian itu, menemani dalam suka dan dukanya tsaaah. Begitu pula dalam mencari beasiswa. Pengalaman saya saat mencari beasiswa saat belum menikah dulu, dibanding dengan suami yang cari beasiswa setelah menikah dan punya anak, tentu saja saat saya cari beasiswa, mayoritas hal saya kerjakan sendiri. Tetap ada diskusi dengan Pak Evan juga sih waktu itu walau belum menikah, tapi yaa tetap saja kebanyakan diusahakan sendiri. Tidak begitu masalah sih, karena saat itu fokus saya kan “cuma” menyelesaikan kuliah dan mencari juga Kuliah S2 di Jepang dengan Beasiswa Monbukagakusho MEXTSetelah menikah, tentunya tanggung jawab, fokus, dan yang mesti dipikirkan jadi bertambah. Apalagi kalau sambil mengurus anak dan bekerja. Saya ga tahu ya orang lain gimana, tapi sepengamatan saya terhadap suami, suami susah banget untuk benar-benar fokus hanya ke mencari beasiswa ketika ada anak yang mesti ditemenin main, ada kerjaan yang mesti diselesaikan, ada finansial keluarga yang mesti dipikirkan, ada masa depan bersama yang mesti direncanakan, juga Mencari Beasiswa Luar Negeri, “Tidak Semudah Itu Ferguso!”Di situlah kita bisa berperan untuk mendampingi, membantu pasangan untuk tetap on track mengejar apa yang dicita-citakan. Dalam semua aspek sih pastinya ya, kita kudu saling support. Kali ini saya fokus ke bahasan apa aja sih yang bisa kita bantu jika suami/istri mau mencari beasiswa luar negeri. Langsung saja ya ke Mencarikan Info BeasiswaMencatat dan Mengingatkan Tanggal-Tanggal PentingMembantu Mencarikan Kampus dan Jurusan yang SesuaiMendiskusikan Esai dan Rencana StudiMengecek Ulang Pendaftaran Sebelum Dikirim Mendampingi dalam Suka dan DukaMendoakan yang TerbaikMembantu Mencarikan Info BeasiswaBeasiswa luar negeri itu sesungguhnya ada banyak sekali, infonya banyak di internet. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa untuk browsing serta memahami persyaratan dan proses seleksi beasiswanya butuh waktu. Di sinilah kita bisa banget yang biasa dicari adalah batas waktu pendaftaran beasiswa dan syarat-syarat pendaftarannya. Dari syarat pendaftaran itu nanti bisa di-breakdown lagi apa saja yang mesti disiapkan. Misal butuh TOEFL/IELTS, berarti mesti punya dulu sebelum bisa dan Mengingatkan Tanggal-Tanggal PentingTanggal paling penting tentunya batas pendaftaran beasiswa ya, karena kalau kelewat ya ga bakal diterima, hehe. Tiap beasiswa beda-beda batas waktu pendaftarannya, oleh karena itu penting banget untuk diingat. Saat banyak banget yang dikerjakan, orang biasanya gampang lupa apalagi kalau pikirannya tidak sedang fokus di situ. Karena itu kita bisa bantu pasangan, menjadi reminder untuknya bahwa tanggal sekian pendaftaran beasiswa tanggal batas pendaftaran, biasanya juga ada info tanggal-tanggal tahapan seleksinya. Ini kalau ga diingat sih ga apa-apa juga, karena kalau udah daftar, pengumuman-pengumuman berikutnya biasanya dikirimkan juga ke email. Tapi bagus juga diperhatikan biar tahu kira-kira mesti menunggu pengumuman sampai kapan, Mencarikan Kampus dan Jurusan yang SesuaiKalau sudah ada kampus dan jurusan yang diincar biasanya ga butuh lagi ya browsing soal ini. Tapi dalam kasus suami saya dulu, beberapa kali saya bantu browsing cari kampus dan jurusan yang kira-kira sesuai dengan minat suami. Mungkin karena jurusan yang dipengen suami itu ga banyak pilihannya. Yang beliau minati itu paling bagus memang di UK katanya, tapi saat ga ada jalannya ke sana, tidak ada salahnya mencoba mencari jalan lain ye tahu jurusan yang sesuai gimana? Untuk yang kuliahnya course based, coba aja baca kurikulumnya, biasanya ada sih di website kampus. Untuk yang research based seperti di Jepang, biasanya fokus pencarian lebih ke lab atau profesor yang bidang risetnya cocok ya. Jadi baca-baca aja website labnya, topik risetnya tentang apa aja, dll., nanti jurusan dan kampus tinggal ngikut ke setelah browsing saya simpen aja semua link-nya, trus kasih ke suami, suami tinggal filter lagi mana yang menurutnya benar-benar cocok. Suami jadi hemat waktu Esai dan Rencana StudiBingung cari kata yang lebih tepat dibanding “mendiskusikan”, haha. Seperti yang saya tulis di tulisan sebelumnya, esai dan rencana studi biasanya jadi komponen penting dalam seleksi beasiswa. Isinya mesti ngena dan tepat sasaran. Bagian ini tentunya si pencari beasiswanya sendiri yang menulis yaa. Tapi sebagai pasangan, kita bisa bantu baca, cek, dan kasih pendapat terhadap apa yang sudah ditulis itu. Kalau pengetahuan akan grammar-nya bagus, pas baca bisa sekalian bantu cek grammar-nya. Minimal banget cek apakah ada typo atau punya latar belakang bidang keilmuan yang sama, biasanya lebih gampang ya diskusinya. Kalau saya dan suami, karena bidang keilmuannya beda banget, jadi saya cuma bisa kasih pendapat apakah esainya sudah menjawab apa yang diminta. Di luar itu ga bisa kasih masukan lagi, Ulang Pendaftaran Sebelum Dikirim Kelengkapan persyaratan itu penting banget, kalau ga lengkap bisa aja lho ga lolos walau yang lainnya OK banget. Saat ini kebanyakan seleksi awal beasiswa itu dilakukan secara online dan itu lumayan banget form yang mesti diisi. Kalau dicek sendiri biasanya perasaan bilang semuanya sudah OK. Tapi kalau ada yang bantu cek, kadang ada aja ketemu yang mengganjal, entah itu typo atau salah entri data eaaaa keyword banget ini ya sekarang wkwk.Dulu suami tiap mau submit pendaftaran beasiswa pasti minta sambil ditemenin. Biasanya kami tunggu Akas tidur dulu biar lebih tenang. Trus dicek lagi deh formnya dari awal, apakah isinya sudah benar. Setelah dirasa lengkap semua, barulah baca bismillah dan klik tombol “Submit”-nya, dalam Suka dan DukaTsaaah, ini general banget istilahnya, mencari beasiswa, tak jarang kita bakal gagal dulu, ga lolos dulu. Suami saya dulu gagal berkali-kali hingga akhirnya berhasil. Saat gagal itu, pastilah ada perasaan sedih, down, putus asa, dll. Di sanalah peran pasangan menemani, mendampingi, dan menguatkan. Saat sudah berhasil, alhamdulillah. Ingatkan juga untuk bersyukur, karena semuanya tidak akan terjadi tanpa yang TerbaikIni kayaknya ga perlu dijelasin lagi lah ya, udah jelas, huehe. Saya juga bingung mau nulis apa, wkwk. Intinya yaa tiap usaha mesti dibarengi doa ya.—Sekian tulisan kali ini. Itu sih hal-hal yang kepikiran saat ini jika mau bantu pasangan mencari beasiswa luar negeri. Buibu pakbapak ada yang suami/istrinya lagi cari beasiswa juga? Bisa bantu apa lagi yaa?Salam,
Tertarik untuk kuliah di luar negeri? Prospek karir yang baik sekaligus jaringan pertemanan internasional adalah dua dari banyak hal menarik yang mampu Anda raih saat kuliah di luar negeri. Kuliah di luar negeri adalah keputusan besar. Pastinya Anda ingin mendapatkan persiapan yang matang sebelum melanjutkan pendidikan jauh dari rumah. Ikuti program pra kuliah di luar negeri di negara tujuan pilihan Anda dimana kami menjamin 100% Penerimaan di universitas partner kami yang lebih dari 250 universitas di seluruh dunia.
JAKARTA, - Analis Kepegawaian Madya Direktorat Status dan Kedudukan Kepegawaian SKK di Badan Kepegawaian Negara BKN, Ade Jajang Jatnika Wiralaksana mengatakan, bagi Pegawai Negeri Sipil PNS yang masa kerjanya telah mencapai 5 tahun berhak diberikan cuti di luar tanggungan negara CLTN. Hal ini diatur dalam Peraturan BKN Nomor 7 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan BKN Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti PNS. Pernyataan itu Jajan sampaikan saat acara Sosialisasi Layanan Status dan Kedudukan Kepegawaian Bagi Aparatur Sipil Negara ASN dengan Kabupaten Kuningan melalui virtual, Rabu 28/9/2022.Baca juga Menyikapi Wacana PNS Diganti Robot "Sesuai dengan regulasi tersebut cuti di luar tanggungan negara dapat diberikan kepada PNS yang mengikuti atau mendampingi suami/istri tugas negara/tugas belajar di dalam/luar negeri dengan melampirkan syarat seperti surat penugasan atau surat perintah tugas dari pejabat yang berwenang," katanya dalam keterangan tertulis dikutip melalui laman BKN, Kamis 29/9/2022. Kedua, cuti diberikan kepada PNS yang mendampingi suami/istri bekerja di dalam/luar negeri dengan melampirkan surat keputusan atau surat penugasan/pengangkatan dalam jabatan. Ketiga, bagi PNS yang sedang menjalani program untuk mendapatkan keturunan dengan melampirkan syarat surat keterangan dokter spesialis. Keempat, PNS mendampingi anak yang berkebutuhan khusus melampirkan surat keterangan dokter spesialis. Baca juga Apa Saja Hukuman bagi PNS yang Bersikap Arogan di Jalanan? Kelima, PNS yang mendampingi suami/istri/anak yang memerlukan perawatan khusus. Keenam, PNS mendampingi merawat orang tua/mertua yang sakit/uzur dengan melampirkan surat keterangan dokter. Terakhir kata Jajang, permohonan cuti di luar tanggungan negara dapat disetujui paling lama 3 tahun dan dapat diperpanjang paling lama 1 tahun. Ketika PNS selesai mejalankan cuti di luar tanggungan negara, wajib melapor kepada instansi secara tertulis paling lambat 1 bulan. Baca juga Daftar Gaji PNS Golongan IV Menurut Masa Kerja Tahun 2022 Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Ada banyak alasan yang menyebabkan satu keluarga harus mengalami relokasi, baik ke lain kota maupun negara yang berbeda. Dari banyak alasan, dua yang paling lazim adalah tuntutan pekerjaan dan studi salah satu pasangan atau keduanya. Seringkali istri atau suami haru menginggalkan karirnya untuk mendukung pasangannya. Bagi saya, berat untuk meninggalkan karir yang telah dibangun lama di Indonesia dan memulai hidup yang baru di negeri orang. Pemikiran bahwa saya akan kehilangan keterampilan bekerja atau menjadi tidak produktif lagi cukup menakutkan, dan saya pikir saya tidak sendiri dalam hal ini. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi tips untuk para istri atau suami, yang dengan setia menemani pasangannya belajar / bertugas, agar tetap produktif di tempat baru. Dengan tetap produktif, maka hidup pun menjadi lebih bersemangat dan dapat lebih membawa manfaat bagi orang lain. Sebelum menikah, saya dan suami sepakat bahwa kami akan saling mendukung satu sama lain dalam berkarya dan bahwasannya kami adalah satu tim untuk mencapai tujuan yang sama. Jadi ketika kami tau bahwa suami akan ditugaskan untuk studi di mancanegara, maka kami pun sudah merencanakan apa yang akan saya lakukan ketika mendampingi suami. Tapi itu dulu sebelum kami berangkat... Tentu saja, seperti hal-hal lain yang sudah direncanakan, perubahan datang tak diduga. Masa studi suami yang diperkirakan hanya akan berlangsung selama satu setengah tahun ternyata diperpanjang karena dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Di satu sisi kami bersyukur karena kesempatan ini merupakan tanggung jawab sekaligus hak istimewa, di sisi lain saya harus memikirkan kegiatan yang dapat saya lakukan di beberapa tahun berikutya. Setelah melalui masa berpikir keras tetang apa yang saja yang ingin saya lakukan dan mulai melakukannnya, akhirnya saya muai terbiasa dengan ritme hidup saya yang baru. Berikut ini saya ingin berbagi ide tentang lima aktifitas yang telah, sedang dan mungkin akan saya lakukan selama mendampingi suami. 1. Sekolah lagi. Sebelum berangkat, saya dan suami sudah sama-sama melamar ke beberapa universitas di negara yang sama. Akhirnya kami sama-sama diterima tetapi di dua negara bagian yang berbeda. Alhasil, kami harus tinggal berjauhan selama masa studi kami. Class of 2010 Memang tidak semua pasangan dapat melakukan hal ini, terutama jika sudah dikaruniai anak. Kebetulan kami masih berdua saja selama studi berlangsung. Di lain sisi, saya mengetahui ada beberapa pasangan lain yang sudah memiliki anak tapi dua-duanya bisa bersekolah lagi. Jadi, adanya anak bukan menjadi halangan, hanya dituntut untuk kerja lebih keras pastinya. Selain kuliah dalam bentuk formal, ada banyak program sertifikasi yang bisa ditempuh yang tentunya lebih flexible dan terjangkau. Sertifikat ini tentu akan memberi nilai tambah pada resume jika kelak akan kembali bekerja di Indonesia. 2. Menulis. Seringkali kuliah bukan merupakan pilihan karena biaya beasiswa tidak selalu tersedia dan anak yang membutuhkan perhatian penuh. Perlu diingat, bahwa pilihan untuk merawat anak sepenuhnya tanpa bantuan day-care adalah pilihan yang mulia dan masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersamaan dengan pilihan ini. Salah satu aktifitas yang bisa dilakukan adalah menulis! Mengapa menulis? Proyek sederhana menulis buku profil beasiswa yang membiayai studi saya di Boston - Berbagi pemikiran dan ilmu. Tulisan adalah salah satu bentuk media pendidikan. Tulisan yang baik dapat terus mempengaruhi dan mengubah hidup pembacanya sekalipun penulisnya telah lama tiada contohnya Paulo Freire, Lewis, Pramoedya Ananta Toer, dan masih banyak lagi. Hampir semua istri atau suami yang saya kenal dan sedang mendampingi pasangannya hidup di mancanegara adalah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi di bidangnya masing-masing. Menurut saya, latar belakang pendidikan yang kita mliki tidak hanya berfungsi untuk memberikan pilihan hidup yang lebih baik tapi yang terutama diikuti dengan tanggung jawab untuk berbagi. Saya setuju dengan Marian Wright Edelman, pendiri organisasi Children's Defense Fund, yang mengatakan bahwa "education is for improving the lives of others and for leaving your community and world better than you found it." Jadi, melalui tulisan, kita yang sudah menikmati pendidikan, dapat memenuhi amanat untuk berbagi dan membuat dunia ini lebih baik dari sebelumnya. - Mengasah keterampilan berpikir. Saya bangga sekali menjadi orang Indonesia. Namun saya juga mengakui ada banyak kelemahan masyarakat Indonesia yang salah satunya adalah mudah termakan issue dan hasutan baca provokasi. Warisan budaya menghafal dalam sistem pendidikan Indonesia menghasilkan lulusan yang kurang pandai berpikir mandiri dan mudah termakan omongan orang lain. Berpikir adalah sebuah keterampilan yang harus diasah. Dengan menulis, seseorang dilatih untuk berpikir secara sistematis dalam rangka membuat tulisannya mudah diikuti, membangun argumen yang didukung oleh bukti dan berbagai pemikiran yang sudah ada, dan merefleksikan atau meninjau kembali pemikirannya berulang kali untuk melihat kesahihannya. Maka tidak heran jika seorang penulis yang baik biasanya akan menjadi seorang pembicara yang baik karena ia terbiasa berargumen dan berpikir dalam tulisannya. - Mewarisi kebiasaan yang baik kepada generasi penerus. Ada satu pengajaran bijaksana yang mengatakan bahwa anak-anak kita belajar lebih banyak dari melihat perbuatan kita daripada dari mendengar perkataan kita. Alangkah indahnya jika Indonesia dipenuhi oleh generasi produktif yang gemar berpikir dan menghasilkan karya. Namun, tidak ada generasi yang dapat menjadi produktif tanpa gemar membaca dan menulis; dan jika ingin membangun suatu generasi yang gemar membaca dan menulis, maka tidak ada cara yang lebih baik daripada dengan menjadi teladan dalam membaca dan menulis. 3. Belajar bahasa dan budaya. Bukan rahasia bahwa kunci kesuksesan belajar bahasa asing adalah praktik yang terus menerus dan sebisa mungkin berlatih dengan native speaker. Nah, dengan tinggal di negara asing kesempatan untuk melakukan hal tersebut berlimpah ruah Tidak ada kesempatan belajar yang lebih baik dari tinggal di negara asal sang native speaker. Jika seseorang memiliki minat belajar yang tinggi dan ingin belajar lebih dari satu bahasa asing, maka tidak sulit untuk melakukannya. Contohnya saya yang saat ini tinggal di Amerika memiliki akses untuk belajar bahasa Spanyol, Cina, Jepang, dll, dengan biaya yang terjangkau. Di kota tempat saya tinggal terdapat berbagai lembaga yang menyediakan jasa belajar bahasa asing dengan biaya minimum, seperti Davis Adult School dan International House Davis lembaga nirlaba yang mempromosikan interaksi dan pertukaran lintas budaya. Perayaan Tahun Baru Cina di kompleks apartment Hal yang sama juga berlaku jika ingin belajar berbagai budaya bangsa lain. Kebetulan saya dan keluarga tinggal di Student Housing, yaitu kompleks apartment khusus untuk mahasiswa paskasarjana yang sudah berkeluarga. Kompleks ini ditinggali oleh keluarga mahasiswa dari berbagai negara dan memiliki asosiasi yang cukup aktif mengadakan kegiatan bagi warganya, seperti kegiatan memasak bersama, perayaan Tahun Baru Cina, Pizza Night, dll. Alhasil saya bertemu dengan keluarga-keluarga dari berbagai negara dan dapat belajar sedikit-sedikit mengenai budaya dan kebiasaan mereka. Biasanya kesempatan belajar budaya ini dapat ditemui di lingkungan tempat tinggal, di sekolah anak / melalu teman sekolah suami, institusi keagamaan, atau organisasi lain yang kita pilih untuk menjadi bagian di dalamnya. Jangan lupa siapkan souvenir kecil tentang Indonesia sambil promosi negara tercinta . 4. Belajar berbagai keterampilan. Belajar masakan Italia Teman-teman 'seperjuangan' saya banyak sekali yang aktif belajar keterampilan baru selama mendampingi pasangannya. Mulai dari belajar seni scrapbook, quilting, memasak, dan masih banyak lagi. Lebih hebatnya lagi, setelah kembali ke tanah air mereka menggunakan keterampilan barunya untuk dibagikan ke orang lain. 5. Volunteer, magang atau bekerja. Kesempatan magang atau bekerja seorang pendamping pelajar seperti saya sangat tergantung pada jenis visa yang saya miliki. Kalau status pasangan saya F1, maka saya akan menggunakan F2. Jika pasangan saya menggunakan J1, maka saya akan menggunakan visa J2. Beda yang paling nyata antara kedua visa tersebut adalah jika saya menggunakan visa J2 maka saya dapat bekerja atau magang selama masa tinggal. Perbedaan lebih lengkap mengenai kelebihan dan masing-masing bisa dilihat di dua laman berikut F2 dan J2. Tentunya penjelasan ini sangat terbatas untuk negara Amerika karena saat ini saya berdomisili di Amerika. Salah satu kegiatan kelompok ketika magang di sebuah NGO di Boston Satu dari tiga hal yang saya sebutkan pada poin ini dapat dilakukan tanpa tergantung pada visa yang dimiliki adalah volunteer atau kerja suka rela. Ada banyak lembaga kemanusiaan atau nirlaba di negara tujuan yang terbuka untuk menerima volunteer. Walaupun tidak menerima bayaran, tapi kegiatan volunteer ini bernilai lebih dari sekedar uang. Pertama, dengan volunteer seseorang memenuhi hakikatnya sebagai manusia untuk saling menolong satu sama lain. Kedua, seseorang akan dapat banyak pelajaran berharga mengenai tata kelola suatu organisasi, menambah teman, mengasah keterampilan sosial dan bahasa, dan kalaupun tidak ada manfaat lain setidaknya satu hal saya jamin pasti didapat, yaitu kesenangan murni dari membagi hidup dengan orang lain. Lima poin di atas hanya sebagian kecil dari kegiatan yang bisa dilakukan. Tidak banyak orang Indonesia yang memiliki kesempatan merasakan tinggal di negeri orang. Alangkah baiknya jika kesempatan tersebut bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengembangkan diri dan kemudian membagikan ilmu yang didapat dengan orang lain. Lihat Lyfe Selengkapnya
mendampingi suami kuliah di luar negeri