MenelusuriTradisi Islam di Nusantara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan memiliki beragam suku, agama, ras dan bahasa serta budaya. Indonesia pernah mengalami berbagai macam jaman seperti Hindu-Buddha, islam, jaman penjajahan, kemerdekaan, sampai masa reformasi sekarang ini.Setiap zaman membawa pengaruh tersendiri bagi pertumbuhan dan perkembangan Sebagaiupacara e. Sebagai kepariwisataan. B. TRADISI DAN UPACARA ADAT YANG BERNAFASKAN ISLAM 1. Syawalan dan Halal Bihalal Tradisi Syawalan berkembang di wilayah Nusantara khususnya di Jawa yang sangat erat dengan ibadah puasa. Banyak tempat yang dijadikan tradisi Syawalan. Seperti di Klaten, Jawa Tengah. Keywords Islam, Nusantara, culture, Indonesia, Value AbstrakTujuan tulisan ini adalah mengkaji konsep Islam Nusantara ditinjau dari struktur teori relasi Islam dan budaya lokal serta alasannya menelusuritradisi islam di nusantara vicca qarinah putriAssalamuallikum Wr WbTradisi islam di Nusantara adalah sesuatu yang menggambarkan suatu tradisi dari berbagai daerah yang melambangakan kebudayaan islam dari daerah tersebut dan juga merupakan metode dahwah yang dilakukan para ulama saat ituTradisi islam di Nusantara muncul sebagai akibat ajaran agama yang dipraktikan dalam kehidupan SunanKalijaga (Kalijogo) adalah salah satu dari walisongo yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam catatan sejarah persebaran Islam di Pulau Jawa. Sunan Kalijaga dianggap istimewa di antara kesembilan wali tersebut karena kental memanfaatkan tradisi Jawa dalam penyiaran agama baru di tanah yang sebelumnya telah mengenal agama Hindu dan Buddha. Vay Nhanh Fast Money. Tradisi Islam di Nusantara ini muncul sebagai akibat ajaran agama yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran Islam akan merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat sampai menjadi tradisi dan tata cara hidup. Sebelum kedatangan Islam masyarakat Nusantara telah memeluk agama Hindu-Buddha, sehingga penduduk Nusantara telah memiliki budaya, tata cara hidup dan adat yang mengakar kuat. Tumbuhnya Islam menyebabkan adanya akulturasi budaya. Akulturasi merupakan proses percampuran antara unsur kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain sehingga terbentuk kebudayaan yang baru tanpa menghilangkan sama sekali ciri khas masing-masing kebudayaan lama. Kedatangan ajaran Islam di Nusantara juga mengalami proses akulturasi dengan kebudayaan Nusantara saat itu. Berikut ini adalah seni budaya Nusantara yang telah mendapatkan pengaruh dari ajaran Islam. A. Nama-Nama Bulan dalam Jawa Masuknya Islam ke Indonesia, membawa pengaruh pada sistem penanggalan. Islam menggunakan kalender Hijriah yang berpatokan pada perputaran bulan. Bentuk akulturasi antara penanggalan Islam dengan penanggalan Jawa dapat terlihat pada penamaan bulan sebagai berikut No Bulan Hijriyah Bulan Jawa Jumlah Hari 1 Muharam Sura 30 2 Safar Sapar 29 3 Rabi’ul awwal Mulud 30 4 Rabi’ul akhir Bakda mulud 29 5 Jumadil awal Jumadil awal 30 6 Jumadil akhir Jumadilakir 29 7 Rajab Rejeb 29 8 Sya’ban Ruwah 29 9 Ramadhan Pasa 30 10 Syawal Sawal 29 11 Zulqaidah Apit 30 12 Zulhijjah Besar 29/30/29/30 Jumlah 354/355 B. Seni Bangunan Masjid Wujud akulturasi terlihat dalam bangunan masjid kuno, yaitu dilihat dari bentuk bangunan, menara dan letak masjid. Kebanyakan bentuk bangunan masjid di Jawa berbentuk seperti pendopo yang berbentuk bujur sangkar dan tersusun ke atas semakin kecil dan tingkat teratas disebut dengan limas. Jumlah tumpang biasanya gasal. Bentuk masjid seperti ini disebut dengan meru. Bentuk tumpang ini merupakan akulturasi dengan Hindu, di mana pura milik orang Hindu berbentuk tumpang. Menara berfungsi sebagai tempat menyerukan azan. Bentuk akulturasi ini terlihat pada menara Masjid Kudus yang terbuat dari terakota yang tersusun seperti candi, sedangkan di Banten bentuk menara menyerupai mercusuar di Eropa. Kebanyakan masjid di Indonesia terletak di sebelah barat alun-alun istana atau keraton. Selain itu masjid juga diletakkan dekat dengan makam, terutama makam raja-raja. C. Seni Ukir dan Kaligrafi Seni ukir yang dimaksud adalah seni ukir hias untuk hiasan masjid, bangunan makam di bagian jirat, nisan, cungkup dan tiang cungkup. Seni ukir hias ini antara lain berupa dedaunan, motif bunga teratai, bukit-bukti karang, panorama alam, dan ukiran kaligrafi. Kaligrafi adalah seni menulis indah dengan merangkaikan huruf-huruf Arab atau ayat suci al-Qur'an, hadis, asma Allah Swt., shalawat maupun kata-kata hikmah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kaligrafi Islam sering disebut dengan istilah khat. Kaligrafi sebagai motif hiasan dapat dijumpai di masjid-masjid kuno, seperti ukir-ukiran yang terdapat pada masjid di Jepara dan sekitarnya. D. Seni Tari Di beberapa daerah di Indonesia terdapat bentuk-bentuk tarian yang berkaitan dengan bacaan shalawat. Tari Zipin adalah sebuah tarian yang mengiringi musik qasidah dan gambus. Musik yang yang mengiringinya berirama padang pasir atau daerah Timur Tengah. Tari Zipin biasa dipentaskan pada upacara atau perayaan tertentu misalnya khitanan, pernikahan dan peringatan hari besar Islam lainnya. Tari Seudati dari Aceh. Seudati berasal dari kata Syaidati yang berarti permainan orang-orang besar. Disebut sebagai Tari Saman karena mula-mula permainan ini dimainkan oleh delapan orang. Saman berasal dari bahasa Arab yang artinya delapan. Dalam tari Seudati para penari menyanyikan lagu tertentu yang berupa shalawat E. Seni Musik Kebudayaan Islam kita juga mengenal seni musik berupa rebana, hadrah, qasidah, nasyid dan gambus yang melantunkan lagu-lagu dengan syair Islami. Hadrah adalah salah satu jenis alat musik yang bernafaskan Islam. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu yang bernuansa Islami yaitu tentang pujian kepada Allah Swt. dan sanjungan kepada Nabi Muhammad saw. Qasidah artinya suatu jenis seni suara yang menampilkan nasihat-nasihat keislaman. Lagu dan syairnya banyak mengandung dakwah Islamiyah yang berupa nasihat-nasihat, shalawat kepada Nabi dan doa-doa. Biasanya qasidah diiringi dengan musik rebana. Sejarah pertama kali penggunaan musik rebana adalah ketika Rasulullah saw. hijrah dari Mekah menuju Madinah. Sesampainya di Madinah Rasulullah saw. disambut dengan meriah di Madinah dengan lantunan musik rebana. F. Seni Pertunjukan Seni pertunjukkan wayang kulit merupakan perpaduan kebudayaan Jawa dengan unsur keislaman. Dahulunya lukisan seperti bentuk manusia, kemudian para wali mengubah bentuknya. Dari yang semula lukisan wajahnya menghadap lurus kemudian agak dimiringkan. Sumber cerita dalam mementaskan wayang diilhami dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Tentunya para Wali mengubahnya menjadi cerita-cerita keislaman, sehingga tidak ada unsur kemusyrikan di dalamnya. Salah satu lakon yang terkenal dalam pewayangan ini adalah Jimas Kalimasada yang dalam Islam diterjemahkan menjadi Jimad Kalimat Syahadat. G. Seni Sastra Ditinjau dari corak dan isinya, kesusastraan zaman Islam dibagi menjadi beberapa jenis. Jenis-jenis karya sastra yang sesuai dengan ajaran Islam di antaranya sebagai berikut. Babad adalah dongeng yang sengaja diubah sebagai cerita sejarah. Babad merupakan campuran antara fakta sejarah, mitos dan kepercayaan. Contohnya Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Babad Mataram, Babad Surakarta, Babad Giyanti, dan Babad Pakepung. Di daerah Melayu, babad dikenal dengan nama sejarah sarasilah silsilah atau tambo, yang juga diberi judul hikayat. Contohnya Tambo Minangkabau, Hikayat Raja-raja Pasai, dan Hikayat Sarasilah Perak. Hikayat adalah cerita atau dongeng yang biasanya penuh dengan keajaiban dan keanehan. Di antara hikayat yang terkenal adalah hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat 1001 malam, Hikayat Bayan Budiman dan lain-lain. Suluk adalah kitab-kitab yang menguraikan soal tasawuf. Sunan Bonang mengembangkan ilmu suluk dalam bentuk puisi yang dibukukan dalam Kitab Bonang. Hamzah Fansuri menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi yang bernafaskan keislaman, misalnya Syair Perahu dan Syair Dagang. Syekh Yusuf, seorang ulama Makassar yang diangkat sebagai pujangga di kerajaan Banten, berhasil menulis beberapa buku tentang tasawuf. H. Kesenian Debus Kesenian debus difungsikan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah. Debus merupakan seni bela diri untuk memupuk rasa percaya diri dalam menghadapi musuh. Kesenian ini mempertunjukkan aksi kekebalan tubuh terhadap benda-benda tajam. Filosofi dari kesenian ini adalah kepasrahan kepada Allah Swt. yang menyebabkan mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi bahaya. Jakarta, - Tradisi sebelum pergi haji merupakan kegiatan dan persiapan yang dilakukan oleh umat muslim ketika ingin melakukan perjalanan ibadah haji ke Makkah dan Madinah. Umumnya tradisi berangkat haji meliputi pendaftaran dan administrasi, persiapan spiritual, persiapan fisik, kelengkapan haji, ritual pelepasan, ziarah, dan pelatihan ibadah. Tradisi ini tentunya dilakukan berbagai negara di seluruh dunia dengan ciri khas dan nuansa tersendiri dalam persiapan dan perjalanan haji. Berikut adalah beberapa tradisi yang dilakukan sebelum perjalanan haji dari berbagai negara 1. MesirMesir memiliki tradisi haji yang kuat dengan sejarah panjangnya. Jemaah haji Mesir, sering melakukan ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Mesir sebelum melakukan perjalanan haji. Biasanya, mereka mengunjungi Al-Qahirah Kairo dan melihat situs-situs bersejarah, seperti Piramida Giza, Sphinx, dan Masjid Amr ibn al-As, masjid tertua yang ada di Afrika. Selain itu, sebelum berangkat, jemaah haji Mesir memperdalam ilmu agama dengan menghadiri ceramah, kelas, dan seminar yang membahas tentang hal-hal penting dari ibadah haji. Mereka juga belajar mengenai kehidupan Rasulullah SAW dan sejarah Islam. Kegiatan sosial juga menjadi tradisi berangkat haji jemaah Mesir. Mereka berpartisipasi dalam penggalangan dana demi membantu jamaah haji yang kurang mampu atau menyumbangkan barang-barang yang diperlukan saat haji kepada yang membutuhkan. Tidak lupa dengan doa dan dukungan keluarga, jemaah Mesir mengadakan acara keluarga untuk berdoa bersama agar dilindungi perjalanan dan keselamatannya. 2. PakistanTradisi yang dilakukan di negara Pakistan melibatkan persiapan yang intensif di berbagai aspek. Tradisi pergi haji Pakistan mencerminkan rasa hormat, kesungguhan, dan kebersamaan dalam menjalani ibadah. Jemaah haji Pakistan sangat menekankan persiapan fisik, mental, dan spiritual sebelum pergi haji. Mereka mengikuti program pelatihan yang meliputi aspek-aspek ibadah haji, pengetahuan agama, dan praktik sosial. Jemaah Pakistan juga menghadiri ceramah dan kuliah pra-haji yang diselenggarakan oleh para ulama dan cedekiawan agama. Hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang ibadah haji dan memberikan nasihat kepada jemaah calon haji. Adapun dukungan dari keluarga dan masyarakat dalam mendukung jemaah haji Pakistan sebelum berangkat yang berbentuk doa dan nasihat. Saksikan live streaming program-program BTV di sini Jemaah Haji Khusus Tinggalkan Madinah Menuju Makkah NASIONAL Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Meninggal di Tanah Suci Bertambah Jadi 17 Orang, Ini Daftar Namanya NASIONAL PPIH Bersiap Sambut Puncak Haji, Ini Skemanya NASIONAL 2 Bulan Sabit Berlapis Emas Dipasang di Menara Dekat Gerbang Masjidil Haram NASIONAL Kakek Halim Jemaah Calon Haji Tertua Berusia 103 Tahun Asal Bandung Barat Berangkat ke Tanah Suci NASIONAL Persoalan Haji Bisa Disalurkan Lewat Aplikasi "Jemaah Lapor Gus Men" NASIONAL A Redação • Tempo de leitura ~5 minutos • Publicado em 23/11/2021 BrasilHistória A página História Islâmica está recontando os fatos que conectam a cultura nordestina com o legado dos muçulmanos mouros na Europa. O legado deixado pelos muçulmanos no nordeste brasileiro vai desde a comida, passando pela música e arquitetura e contempla até os trajes típicos. Por ser a primeira região colonizada e uma das últimas a passar pela globalização, as marcas do Islam foram muito preservadas no nordeste. Muitas pessoas que estão acostumadas a estudar as heranças culturais do Brasil sabem que o país possui muita influência dos nativos indígenas, europeus e africanos, que formam a base cultural de quase todas as regiões do país. O que é difícil de imaginar é que, dentro disso, há um legado quase silencioso deixado pelas civilizações islâmicas, que moldariam principalmente as expressões que surgiram no nordeste. Entretanto, é um fator curioso se pensarmos que os legados islâmicos mais marcantes da história nordestina foram estabelecidos de um povo católico - os portugueses. A contínua presença desses europeus no território brasileiro, que por muitos anos foi dominado por eles, gerou expressões culturais diversas na cozinha, música, arquitetura e nos trajes típicos. Tudo isso possui marcas deixadas pelo Islam na península ibérica. Como o Islam “Chegou” ao Nordeste Todas essas curiosidades estão chegando a um grande público novamente através do trabalho da página História Islâmica que, entre outubro e novembro, criou publicações falando um pouco sobre a herança nordestina dos portugueses que, na verdade, vieram dos mouros que povoaram e governaram boa parte da península ibérica entre os séculos VIII e XV e perderam o domínio para os portugueses poucos anos antes de eles chegarem ao Brasil. Somente em 1492, a cidade de Granada, o último território dos mouros na península ibérica, foi conquistado pelos cristãos. No entanto, os muçulmanos continuariam naquela região ao longo do século XVI, mesmo sob o governo dos católicos. Enquanto isso, o Brasil foi descoberto em 1500 e, na metade do século, a colonização se intensificaria, o que significa que a presença islâmica no mediterrâneo europeu coexistiu com a chegada dos portugueses na América do Sul. De acordo com o curador da página História Islâmica, Mansur Peixoto, essa cronologia de eventos foi fundamental para o surgimento da cultura nordestina “Por ter sido a primeira região a ser colonizada e a última a ser globalizada quando falamos de Brasil, isso proporcionou uma cápsula do tempo para que este legado cultural se preservasse de maneira mais forte no Nordeste”, afirmou. Expressões Influenciadas Pelo Islam A pesquisa feita pela página mostrou coisas muito interessantes, como os símbolos encontrados no castelo de Alhambra presente no chapéu dos vaqueiros, usados inclusive por figuras como os cangaceiros; o gibão que veio das túnicas dos árabes chamadas de jubbah; o cobogó vindo dos muxarabis andaluzes; e até mesmo as expressões musicais, como a trilogia sertaneja, com o pífano, rabeca e viola, que possuem origens andaluzes. A página História Islâmica também lembrou que alguns artistas populares da música brasileira, como Belchior e Xangai, que já mencionaram a origem árabe do aboio, o canto de condução dos gados dos boiadeiros, que foi influenciado pelo azan, o chamado da oração islâmico. A influência já virou até obra de literatura, como a Pedra e o Reino, de Ariano Suassuna, que também inspirou a construção do Castelo Armorial, em São José do Belmonte, Pernambuco. Em muitos casos, os muçulmanos podem ter contribuído diretamente para a cultura brasileira, sem intermédio dos católicos. “As vias de transmissão foram diversas. Se deu tanto pelos próprios portugueses cristãos como por cripto muçulmanos, não só no Brasil como em toda a América Latina. Sua presença é bem documentada, bem como sua caça e morte. Então, sim, havia muitos muçulmanos por aqui”, diz Mansur. No entanto, os conteúdos da página também revelam que a herança islâmica também está presente em algumas expressões de outras religiões do Brasil. Um exemplo são os muçulmanos expulsos da Espanha, que tiveram uma grande importância para o surgimento de diversas características da cultura gaúcha, como as vestimentas e a cavalaria. Isso ocorre principalmente porque essas influências estavam muito presentes na Espanha e em Portugal. “Mas um olhar pelo nordeste faz os pesquisadores perceberem que o legado islâmico foi muito mais preservado naquela região. Ainda que haja expressões culturais notáveis, como no Rio Grande do Sul, que passa a ser povoado por mouriscos espanhóis, fruto das grandes deportações, o nordeste foi a região que mais recebeu e conseguiu guardar este legado”, concluiu Mansur. Links Para Leitura Revolta dos Malês Minissérie Exibe Marco do Islam no Brasil Islam Proibido – A Revolta dos Malês na Bahia Al Baghdádi Um Imam no Brasil na era da escravidão Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki beragam suku, agama, ras, dan bahasa serta budaya. Kekayaan budaya ini tidak terlepas dari faktor sejarah bangsa Indonesia dari masa ke masa. Indonesia pernah mengalami berbagai macam zaman, seperti Hindu-Buddha, Islam, zaman penjajahan, kemerdekaan, sampai masa reformasi sekarang ini. Setiap zamanmembawa pengaruh tersendiri bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan di Islam di Nusantara dari masa ke masa juga menambah khazanah dan kekayaan budaya. Para mubaligh dan penyebar Islam telah berhasil menanamkan akidah Islamiyah di Nusantara. Hal ini sekaligus memunculkan dan menumbuhkan kebudayaan baru. Baik itu budaya sebagai hasil pembauran dengan budaya sebelum Islam, maupun budaya yang lahir karena adanya nilai-nilai IslamTradisi Islam di Nusantara ini muncul sebagai akibat ajaran agama yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran Islam akan merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat sampai menjadi tradisi dan tata cara hidup. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Nusantara telah memeluk agama Hindu-Buddha sehingga penduduk Nusantara telah memiliki budaya, tata cara hidup dan adat yang mengakar kuat. Tumbuhnya Islam menyebabkan adanya akulturasi budaya. Kekayaan budaya ini harus dilestarikan supaya generasi mendatang juga dapat merasakannya. Sikap positif dalam memandang kekayaan budaya ini perlu dikembangkan. Kekayaan tradisi dan budaya dipandang sebagai warisan leluhur sekaligus merupakan titipan dari generasi pelestarian budaya ini dapat dilakukan dengan selalu menjaganya dari pengaruh negatif budaya luar. Kita harus menyaring budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai kepribadian bangsa dan Islam. Adapun tradisi dan budaya yang sesuai dengan kepribadian bangsa dan nilai-nilaiIslam dapat diterima dan daerah atau provinsi di Indonesia memiliki tradisi dan budaya yang khas. Tradisi dan budaya pada setiap daerah tersebut perlu diperkenalkan ke dunia luar sebagai kekayaan budaya bangsa. Hal ini juga dimaksudkan sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan tradisi dan budaya yang telah Tradisi Nusantara sebelum IslamJauh sebelum Islam masuk dan berkembang di Nusantara, masyarakat telah memiliki keragaman budaya dan tradisi. Bahkan, sebelum agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia, masyarakat telah memiliki kepercayaan kepada benda-benda alam dan ruh nenek moyang. Kepercayaan kepada benda-benda alam dan ruh nenek moyang ini berpengaruh pada pola kehidupan masyarakat. Banyak upacara ritual dilakukan sebelum melakukan kegiatan tertentu. Misalnya ritual sebelum melaksanakan hajatan, kelahiran, perkawinan, kematian dan lain sebagainya. Tradisi ini mereka lakukan turun-temurun dari satu generasi ke generasi patuh menjalankan tradisi tersebut karena beranggapan jika terjadi pelanggaran, akan mendapat kutukan dari arwah nenek moyang yang akibatnya akan mendatangkan bencana di tengah-tengah kebudayaan Hindu-Buddha dari India ke Nusantara melalui proses penyesuaian dengan kondisi kehidupan masyarakat. Tentu saja penyesuaian ini tanpa menghilangkan unsur asli budaya di antara pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha dalam kebudayaan Indonesia, misalnya tampak pada seni rupa dan seni ukir. Seni rupa dan seni ukir ini terlihat pada relief dinding-dinding candi. Sebagai contoh, pada relief Candi Borobudur tampak adanya perahu bercadik yang merupakan gambaran pelaut nenek moyang bangsa Indonesia. Terdapat pula relief yang menggambarkan riwayat sang Buddha sekaligus ada gambaran lingkungan alam kebudayaan Hindu-Buddha juga tampak pada bidang seni bangunan, misalnya pada bentuk bangunan candi. Di India, candi merupakan kuil untuk memuja para dewa dengan bentuk stupa. Di Indonesia, candi selain sebagai tempat pemujaan, juga berfungsi sebagai makam raja atau untuk tempat menyimpan abu jenazah raja yang telah meninggal. Candi sebagai tanda penghormatan masyarakat terhadap sang atas makam sang raja, biasanya didirikan patung raja yang mirip dengan dewa yang dipujanya. Hal ini sebagai perpaduan antara fungsi candi di India dan tradisi pemakaman dan pemujaan ruh nenek moyang di Indonesia. Akibatnya, bentuk bangunan candi di Indonesia pada umumnya adalah punden berundak, yaitu bangunan tempat pemujaan ruh nenek moyang. Contoh ini dapat dilihat pada bangunan Candi Akulturasi Budaya IslamBentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut tidak hanya bersifat kebendaan atau material, tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia. Budaya ini kemudian dikenal dengan istilah budaya Islam. Budaya Islam adalah segala macam bentuk cipta, rasa, dan karsa yang berasal dan berkembang dalam masyarakat serta telah mendapat pengaruh dari Islam. Budaya dalam pandangan Islam adalah sebuah tata nilai dan tradisi yang berkembang dari ajaran Islam. Tata nilai tersebut merupakan hasil penerjemahan dari pokok-pokok ajaran al-Qur’ān dan hadis dalam kehidupan nyata. Tradisi Islam adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilakukan turun temurun oleh masyarakat, dan di dalamnya mengandung ajaran-ajaran Tradisi dalam IslamIslam sesungguhnya membuka diri terhadap budaya-budaya dari luar Islam. Islam mempersilakan siapa pun untuk berpendapat, mengemukakan ide dan gagasan, ataupun menciptakan budaya-budaya tertentu, asalkan sesuai prinsip-prinsip sebagai Tidak melanggar ketentuan hukum Mendatangkan mashlahat kebaikan dan tidak menimbulkan mafsadat kerusakan.c. Sesuai dengan prinsip al-Wala` kecintaan yang hanya kepada Allah Swt. dan apa saja yang dicintai Allah Swt. dan al-Bara` berlepas diri dan membenci dari apa saja yang dibenci oleh Allah Swt..Ketiga prinsip di atas menjadi pedoman baku bagi umat Islam dalam berinteraksi dengan budaya-budaya lain di luar Islam. Berlandaskan ketiga prinsip tersebut, akan lahir sebuah kebudayaan Islam yang memiliki ciri khusus, yaitu budaya yang berasaskan tauhid kepada Allah Swt. Kita dipersilakan untuk berinteraksi maupun mengambil manfaat dari budaya bangsa-bangsa lain, selama ketiga prinsip di atas tidak Budaya Nusantara yang dipengaruhi IslamBerikut ini adalah seni budaya Nusantara yang telah mendapatkan pengaruh dari ajaran Nama-Nama Bulan dalam Penanggalan JawaMasuknya Islam ke Indonesia, membawa pengaruh pada sistem penanggalan. Islam menggunakan kalender Hijriah yang berpatokan pada perputaran bulan. Bentuk akulturasi antara penanggalan Islam dan penanggalan Jawa dapat terlihat pada penamaan bulan sebagai Seni Bangunan MasjidWujud akulturasi terlihat dalam bangunan masjid kuno, yaitu dilihat dari bentuk bangunan, menara dan letak masjid. Kebanyakan bentuk bangunan masjid di Indonesia terutama di Jawa berbentuk seperti pendopo yang berbentuk bujur sangkar. Selain itu, atap masjid berbentuk tersebut tersusun ke atas makin kecil dan tingkat teratas disebut limas. Jumlah tumpang biasanya gasal. Bentuk masjid seperti ini disebut dengan meru. Bentuk tumpang ini merupakan akulturasi dengan Hindu, di mana pura milik orang Hindu berbentuk tumpang. Bentuk atap ini sangat berbeda dengan masjid-masjid di Timur berfungsi sebagai tempat menyerukan azan. Bentuk akulturasi ini terlihat pada menara Masjid Kudus yang terbuat dari terakota yang tersusun seperti candi. Di Banten bentuk menara menyerupai mercusuar di bentuk masjid dan menara, letak masjid juga memiliki ciri khusus. Kebanyakan masjid di Indonesia terletak di sebelah barat alun-alun istana atau keraton. Selain itu, masjid juga diletakkan dekat dengan makam, terutama makam Seni Ukir dan KaligrafiSeni ukir yang dimaksud adalah seni ukir hias untuk hiasan masjid, bangunan makam di bagian jirat, nisan, cungkup dan tiang cungkup. Seni ukir hias ini antara lain berupa dedaunan, motif bunga teratai, bukit-bukti karang, panomara alam, dan ukiran kaligrafi. Kaligrafi adalah seni menulis indah dengan merangkaikan huruf-huruf Arab atau ayat suci al-Qur’ān, hadis, asma Allah Swt., shalawat maupun kata-kata hikmah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kaligrafi Islam sering disebut dengan istilah khat. Kaligrafi sebagai motif hiasan dapat dijumpai di masjid-masjid kuno, seperti ukir-ukiran yang terdapat pada masjid di Jepara dan sekitarnya. Bahkan, masjid-masjid sekarang juga banyak dijumpai tulisan kaligrafi, seperti pada bagian dalam dan luar masjid, dinding, mimbar, bahkan di Seni TariDi beberapa daerah di Indonesia. terdapat bentuk-bentuk tarian yang berkaitan dengan bacaan shalawat. Misalnya pada seni rebana diikuti dengan tari-tarian Zipin, bacaan shalawat dengan menggunakanlagu-lagu tertentu. Tari Zipin adalah sebuah tarian yang mengiringi musik kasidah dan gambus. Tari Zipin diperagakan dengan gerak tubuh yang indah dan lincah. Musik yang mengiringinya berirama padang pasir atau daerah Timur Tengah. Tari Zipin biasa dipentaskan pada upacara atau perayaan tertentu misalnya khitanan, pernikahan dan peringatan hari besar Islam lainnya. Di samping Tari Zipin, ada Tari Seudati dari Aceh. Tarian ini sering disebut Tari Saman. Seudati berasal dari kata syaidati yang berarti permainan orang-orang besar. Disebut sebagai Tari Saman karena mula-mula permainan ini dimainkan oleh delapan orang. Saman berasal dari bahasa Arab yang artinya delapan. Dalam Tari Seudati, para penari menyanyikan lagu tertentu yang berupa Seni MusikKebudayaan Islam kita juga mengenal seni musik berupa rebana, hadrah, kasidah, nasyid dan gambus yang melantunkan lagu-lagu dengan syair islami. Hadrah adalah salah satu jenis alat musik yang bernapaskan Islam. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu yang bernuansa Islami, yaitutentang pujian kepada Allah Swt. dan sanjungan kepada Nabi Muhammad saw. Pada zaman sekarang, kesenian hadrah biasanya hadir ketika acara pernikahan, akikahan atau sunatan. Kasidah merupakan suatu jenis seni suara yang menampilkan nasihat-nasihat keislaman. Lagu dan syairnya banyak mengandung dakwah Islamiyah yang berupa nasihat-nasihat, shalawat kepada Nabi dan doa-doa. Biasanya, kasidah diiringi dengan musik rebana. Sejarah pertama kali penggunaan musik rebana adalah ketika Nabi Muhammad saw. hijrah dari Mekah menuju Madinah. Sesampainya di Madinah, Rasulullah saw. disambut dengan meriah di Madinah dengan lantunan musik Seni PertunjukanSeni pertunjukan wayang kulit merupakan perpaduan kebudayaan Jawa dan unsur keislaman. Bagi orang Jawa, wayang bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga wejangan nasihat-nasihat karena saratdengan pesan-pesan moral yang menjadi filsafat hidup orang wayang diiringi oleh seperangkat alat musik gamelan. Wayang pada mulanya dibuat dari kulit kerbau, hal ini dimulai pada zaman Raden Patah. Dahulunya, lukisan seperti bentuk manusia, kemudian para wali mengubah bentuknya. Dari yang semula lukisan wajahnya menghadap lurus, kemudian agak dimiringkan. Sumber cerita dalam mementaskan wayang diilhami dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Tentunya, para Wali mengubahnya menjadi cerita-cerita keislaman sehingga tidak ada unsur kemusyrikan di dalamnya. Salah satu lakon yang terkenal dalam pewayangan ini adalah Jimas Kalimasada yang dalam Islam diterjemahkan menjadi Jimat Kalimat Seni SastraSeni sastra yang berkembang pada zaman Islam umumnya berkembang di daerah sekitar Selat Malaka daerah Melayu dan di Jawa. Ditinjau dari corak dan isinya, kesusastraan zaman Islam dibagimenjadi beberapa jenis. Meskipun pembagian itu tidak dapat dilakukan secara tegas sebab sering terjadi suatu naskah dapat dimasukkan ke dalam dua golongan sekaligus. Jenis-jenis karya sastra yang sesuai dengan ajaran Islam di antaranya sebagai BabadBabad adalah dongeng yang sengaja diubah sebagai cerita sejarah. Dalam babad, tokoh, tempat, dan peristiwa hampir semua ada daIam sejarah, tetapi penggambarannya dilakukan secara berlebihan. Babad merupakan campuran antara fakta sejarah, mitos dan kepercayaan. Contohnya Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Babad Mataram, Babad Surakarta, Babad Giyanti, dan Babad daerah Melayu, babad dikenal dengan nama sejarah sarasilah silsilah atau tambo, yang juga diberi judul hikayat. Contohnya Tambo Minangkabau, Hikayat Raja-raja Pasai, dan Hikayat HikayatHikayat adalah cerita atau dongeng yang biasanya penuh dengan keajaiban dan keanehan. Tidak jarang hikayat berpangkal pada tokoh-tokoh sejarah atau peristiwa yang benar-benar terjadi. Hikayat yang terkenal adalah hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat 1001 malam, Hikayat Bayan Budiman dan SulukSuluk adalah kitab-kitab yang menguraikan soal tasawuf. Kitab suluk sangat rnenarik karena sifatnya pantheisme, yaitu menjelaskan tentang bersatunya manusia dengan Tuhan manunggaling kawulo lan Gusti. Pujangga-pujangga kerajaan dan para wali yang menghasilkan karya-karya sastra jenis suluk adalah seperti di bawah Sunan Bonang mengembangkan ilmu suluk dalam bentuk puisi yang dibukukan dalam Kitab Hamzah Fansuri menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi yang bernafaskan keislaman, misalnya Syair Perahu dan Syair Syekh Yusuf, seorang ulama Makassar yang diangkat sebagai pujangga di kerajaan Banten, berhasil menulis beberapa buku tentang Melestarikan Tradisi Islam di NusantaraTradisi adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilakukan turun-temurun oleh masyarakat. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara sudah mengenal berbagai kepercayaan dan memiliki beragam tradisi lokal. Melalui kehadiran Islam, kepercayaandan tradisi di Nusantara tersebut membaur dan dipengaruhi nilai-nilai Islam. Karenanya, muncullah tradisi Islam Nusantara sebagai bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan tradisi lokal Nusantara. Tradisi Islam di Nusantara digunakan sebagai metode dakwah para ulama zaman ulama tidak memusnahkan secara total tradisi yang telah ada di masyarakat. Mereka memasukkan ajaran-ajaran Islam ke dalam tradisi tersebut, dengan harapan masyarakat tidak merasa kehilangan adat dan ajaran Islam dapat budaya, adat, dan tradisi yang bernapaskan Islam tumbuh dan berkembang di Nusantara. Tradisi ini sangat bermanfaat bagi penyebaran Islam di Nusantara. Untuk itulah, kita sebagai generasi muda Islam harus mampu merawat, melestarikan, mengembangkan, dan menghargai hasil karya para ulama terdahulu. Mengingat zaman modern sekarang ini, ada sebagian kelompok yang mengharamkan dan ada sebagian yang menghalalkan. Mereka yang mengharamkan tradisi beralasan pada zaman Rasulullah saw. tidak pernah ada. Mereka yang membolehkan dengan dasar bahwa tradisi tersebut digunakan sebagai sarana dakwah dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Kita sebagai generasi penerus Islam harus bijaksana dalam menyikapi tradisi tersebut. Memang, harus diakui ada tradisi-tradisi lokal yang tidak sesuai dengan Islam. Tradisi seperti ini harus kita tolak dan buang supaya tidak ditiru oleh generasi ulama dan wali pada zaman dahulu tentu telah mempertimbangkan tradisi-tradisi tersebut dengan sangat matang baik dari segi madharat-mafsadat maupun halal-haramnya. Mereka sangat pahamhukum agama sehingga tidak mungkin mereka menciptakan tradisi tanpa pertimbangan-pertimbangan Islam yang Berkembang SekarangBanyak sekali tradisi atau budaya Islam yang berkembang hingga saat ini. Semuanya mencerminkan kekhasan daerah atau tempat ini adalah beberapa tradisi atau budaya Islam dimaksud, salah satunya Halal BihalalHalal bihalal dilakukan pada Bulan Syawal, berupa acara saling bermaaf-maafan. Setelah umat Islam selesai puasa Ramadhan sebulan penuh, dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah Swt. Namun, dosa kepada sesama manusia belum akan diampuni Allah Swt. jika belum mendapat kehalalan atau dimaafkan oleh orang tersebut. Oleh karena itu tradisi halal bihalal dilakukan dalam rangka saling memaafkan atas dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan agar kembali kepada fitrah kesucian. Tradisi ini erat kaitannya dengan perayaan Idul halal bihalal selain saling bermaafan adalah untuk menjalin tali silaturahim dan mempererat tali saat ini, tradisi ini masih dilakukan di semua lapisan masyarakat. Mulai keluarga, tingkat RT sampai istana kepresidenan. Bahkan, acara halal bihalal sudah menjadi tradisi nasional yang bernapaskan halal bihalal berasal dari bahasa Arab halla atau halal, tetapi tradisi halal bihalal itu sendiri adalah tradisi khas bangsa Indonesia, bukan berasal dari Timur Tengah. Bahkan, bisa jadi ketika arti kata ini ditanyakan kepada orang Arab, mereka akan kebingungan dalam bihalal sebagai sebuah tradisi khas Islam Indonesia lahir dari sebuah proses sejarah. Tradisi ini digali dari kesadaran batin tokoh-tokoh umat Islam masa lalu untuk membangun hubungan yang harmonis silaturahim antar umat. Dengan acara halal bihalal, pemimpin agama, tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah akan berkumpul, saling berinteraksi dan saling bertukar informasi. Komunikasi ini akan mempererat kekeluargaan dan dapat menyelesaikan berbagai masalah yang acara halal bihalal, semua orang mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Hal ini mengandung maksud bahwa ketika secara lahir, telah memaafkan yang ditandai dengan berjabat tangan atau mengucapkan kata maaf, batinnya juga harus dengan tulus memaafkan dan tidak lagi tersisa rasa dendam dan sakit hati. Menelusuri tradisi islam di nusantara tentunya sangat penting untuk kita ketahui, entah yang bersifat spontanitas maupun ilmiah. Kita dari semenjak Tk telah diajarkan bagaimana agar kita selalu bersikap mengambil hikmah dari tradisi islam. Pada artikel yang satu ini, kami suguhkan rangkuman menelusuri tradisi islam di nusantara. Disini menemukan banyak informasi yang terdapat pada buku Kemendikbud RI keluaran resmi dan pemerintah. 1. Tradisi Nusantara Sebelum Islam Masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia tidak menyebabkan tradisi-tradisi tersebut musnah, justru semakin tumbuh dan berkembang. Hal ini dikarenakan pengaruh agama Hindu-Buddha menyesuaikan dengan tradisi-tradisi di masya-rakat. Bentuk penyesuaiannya adalah dengan mengubah cara-cara upacara ritual sehingga sesuai dengan nilainilai ajaran Hindu-Buddha. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha juga tampak pada bidang seni bangunan, misalnya pada bentuk bangunan candi. Di India, candi merupakan kuil untuk memuja para dewa dengan bentuk stupa. Sedangkan di Indonesia, candi selain sebagai tempat pemujaan, juga berfungsi sebagai makam raja atau untuk tempat menyimpan abu jenazah raja yang telah meninggal. Candi ini sebagai tanda penghormatan masyarakat terhadap sang raja. 2. Akulturasi Budaya Islam Akulturasi merupakan proses percampuran antara unsur kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain sehingga terbentuk kebudayaan yang baru tanpa menghilangkan sama sekali ciri khas masing-masing kebudayaan lama. Kedatangan ajaran Islam di Nusantara juga mengalami proses akulturasi dengan kebudayaan Nusantara saat itu. Islam sesungguhnya membuka diri terhadap budaya-budaya dari luar Islam. Islam mempersilakan siapapun untuk berpendapat, mengemukakan ide dan gagasan, ataupun menciptakan budayabudaya tertentu, asalkan sesuai prinsip-prinsip sebagai berikut. Tidak melanggar ketentuan hukum mashlahat kebaikan dan tidak menimbulkan mafsadat kerusakan.Sesuai dengan prinsip al-Wala` kecintaan yang hanya kepada Allah Swt. dan apa saja yang dicintai Allah Swt. dan al-Bara` berlepas diri dan membenci dari apa saja yang dibenci oleh Allah Swt.. Berikut ini adalah seni budaya Nusantara yang telah mendapatkan pengaruh dari ajaran Islam. Nama-Nama Bulan dalam Jawa No Nama Bulan dalam IslamNama Bulan dalam Jawa1MuharramSura2SafarSapar3Rabiul awwalMulud4Rabiul akhirBakda mulud5Jumadil awalJumadil awal6Jumadil akhirJumadil akhir7RajabRejeb8Sya’banRuwah9RamadhanPasa10SyawalSyawal11ZulqadahApit12ZulhijjahBesar Seni Bangunan Masjid Wujud akulturasi terlihat dalam bangunan masjid kuno, yaitu dilihat dari bentuk bangunan, menara dan letak masjid. Menara berfungsi sebagai tempat menyerukan azan. Bentuk akulturasi ini terlihat pada menara Masjid Kudus yang terbuat dari terakota yang tersusun seperti candi, sedangkan di Banten bentuk menara menyerupai mercusuar di Eropa. Seni Ukir dan Kaligrafi Seni ukir yang dimaksud adalah seni ukir hias untuk hiasan masjid, bangunan makam di bagian jirat, nisan, cungkup dan tiang cungkup. Seni ukir hias ini antara lain berupa dedaunan, motif bunga teratai, bukit-bukti karang, panomara alam, dan ukiran kaligra!. Kaligrafi adalah seni menulis indah dengan merangkaikan huruf-huruf Arab atau ayat suci al-Quran, hadis, asma Allah Swt., shalawat maupun katakata hikmah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Seni Tari Di beberapa daerah di Indonesia terdapat bentuk-bentuk tarian yang berkaitan dengan bacaan shalawat. Misalnya pada seni rebana diikuti dengan tari-tarian Zipin, bacaan shalawat dengan menggunakan lagu-lagu tertentu. Tari Zipin adalah sebuah tarian yang mengiringi musik qasidah dan gambus. Tari Zipin diperagakan dengan gerak tubuh yang indah dan lincah. Musik yang yang mengiringinya berirama padang pasir atau daerah Timur Tengah. Seni Musik Kebudayaan Islam kita juga mengenal seni musik berupa rebana, hadrah, qasidah, nasyid dan gambus yang melantunkan lagu-lagu dengan syair Islami. Seni Pertunjukan Seni pertunjukkan wayang kulit merupakan perpaduan kebudayaan Jawa dengan unsur keislaman. Bagi orang Jawa, wayang bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga wejangan nasihat-nasihat karena sarat dengan pesan-pesan moral yang menjadi filsafat hidup orang Jawa. Pertunjukan wayang diiringi oleh seperangkat alat musik gamelan. Seni Sastra Seni sastra yang berkembang pada zaman Islam umumnya berkembang di daerah sekitar Selat Malaka daerah Melayu dan di Jawa. Jenis-jenis karya sastra yang sesuai dengan ajaran Islam di antaranya sebagai berikut. Babad Babad adalah dongeng yang sengaja diubah sebagai cerita sejarah. Dalam babad, tokoh, tempat, dan peristiwa hampir semua ada daIam sejarah, tetapi penggambarannya dilakukan secara berlebihan. Hikayat Hikayat adalah cerita atau dongeng yang biasanya penuh dengan keajaiban dan keanehan. Suluk Suluk adalah kitab-kitab yang menguraikan soal tasawuf. Kitab suluk sangat rnenarik karena sifatnya pantheisme, yaitu menjelaskan tentang bersatunya manusia dengan Tuhan manunggaling kawulo lan Gusti. Pujangga-pujangga kerajaan dan para wali yang menghasilkan karya-karya sastra jenis suluk adalah seperti di bawah ini. Sunan Bonang mengembangkan ilmu suluk dalam bentuk puisi yang dibukukan dalam Kitab Fansuri menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi yang bernafaskan keislaman, misalnya Syair Perahu dan Syair Yusuf, seorang ulama Makassar yang diangkat sebagai pujangga di kerajaan Banten, berhasil menulis beberapa buku tentang Debus Kesenian debus difungsikan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah. Debus merupakan seni bela diri untuk memupuk rasa percaya diri dalam menghadapi musuh. 3. Melestarikan Tradisi Islam di Nusantara Tradisi adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilakukan turun temurun oleh masyarakat. Seni budaya, adat, dan tradisi yang bernapaskan Islam tumbuh dan berkembang di Nusantara. Tradisi ini sangat bermanfaat bagi penyebaran Islam di Nusantara. Para ulama dan wali pada zaman dahulu tentu telah mempertimbangkan tradisi-tradisi tersebut dengan sangat matang baik dari segi madharatmafsadat maupun halal-haramnya. Banyak sekali tradisi atau budaya Islam yang berkembang hingga saat ini. Semuanya mencerminkan kekhasan daerah atau tempat masingmasing. Berikut ini adalah beberapa tradisi atau budaya Islam dimaksud. Halal Bihalal Halal bihalal dilakukan pada Bulan Syawal, berupa acara saling bermaaf-maafan. Setelah umat Islam selesai puasa ramadhan sebulan penuh maka dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah Swt. Namun, dosa kepada sesama manusia belum akan diampuni Allah Swt. jika belum mendapat kehalalan atau dimaafkan oleh orang tersebut. Tabot atau Tabuik Tabot atau Tabuik, adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad saw. Kedua cucu Rasulullah saw. ini gugur dalam peperangan di Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah 681 M. Kupatan Bakdo Kupat Di Pulau Jawa bahkan sudah berkembang ke daerah-daerah lain terdapat tradisi kupatan. Tradisi membuat kupat ini biasanya dilakukan seminggu setelah hari raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat berkumpul di suatu tempat seperti mushala dan masjid untuk mengadakan selamatan dengan hidangan yang didominasi kupat ketupat. Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta Tradisi Sekaten dilaksanakan setiap tahun di Keraton Surakarta Jawa Tengah dan Keraton Yogyakarta. Tradisi ini dilaksanakan dan dilestarikan sebagai wujud mengenang jasa-jasa para Walisongo yang telah berhasil menyebarkan Islam di tanah Jawa. Peringatan yang lazim dinamai Maulud Nabi itu, oleh para wali disebut Sekaten, yang berasal dari kata Syahadatain dua kalimat Syahadat. Grebeg Tradisi untuk mengiringi para raja atau pembesar kerajaan. Grebeg pertama kali diselenggarakan oleh keraton Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwana ke-1. Grebeg Besar di Demak Tradisi Grebeg Besar merupakan upacara tradisional yang setiap tahun dilaksanakan di Kabupaten Demak Jawa Tengah. Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan dengan datangnya Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban. Kerobok Maulid di Kutai dan Pawai Obor di Manado Di kawasan Kedaton Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, juga diselenggarakan tradisi yang dinamakan Kerobok Maulid. Istilah Kerobok berasal dari Bahasa Kutai yang artinya berkerubun atau berkerumun oleh orang banyak. Tradisi Kerobok Maulid dipusatkan di halaman Masjid Jami’ Hasanuddin, Tenggarong. Tradisi Rabu Kasan di Bangka Tradisi Rabu Kasan dilaksanakan di Kabupaten Bangka setiap tahun, tepatnya pada hari rabu terakhir bulan Safar. Hal ini sesuai dengan namanya, yakni Rabu Kasan berasal dari Kara Rabu Pungkasan terakhir. Dugderan di Semarang Tradisi dugderan merupakan tradisi khas yang dilakukan oleh masyarakat Semarang, Jawa Tengah. Tradisi Dugderan dilakukan untuk menyambut datangnya bulan puasa. Dugderan biasanya diawali dengan pemberangkatan peserta karnaval dari Balaikota Semarang. Budaya Tumpeng Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut. Nasi tumpeng umumnya berupa nasi kuning, atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa, dan biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Daftar Pustaka Ahsan Muhamad, Sumiyati, & Mustahdi. 2017. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas IX. Jakarta Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

menelusuri tradisi islam di nusantara